Senin, 31 Desember 2012

PROSPEK PETERNAKAN DIMASA DEPAN



BAB I
PENDAHULUAN
  

1.1  Latar Belakang

Manusia memerlukan bahan pangan untuk menunjang kelangsungan hidupnya sehari-hari. Bahan pangan yang diperlukan oleh manusia tersebut dapat bermanfaat untuk membangun sel-sel tubuh dan menjaga tubuh agar tetap sehat, aktif dan produktif. Karena bahan pangan merupakan bahan yang mengandung sumber karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin serta dapat membuat manusia tumbuh dan berkembang, mampu beraktivitas dan memelihara kondisi tubuh. Sumber pangan tersebut dapat berasal dari hewani yang terdapat pada bidang peternakan. Oleh karena itu, pembangunan peternakan semakin nyata dan berorientasi pada manusia dimana pembangunan peternakan meletakkan peternak sebagai subyek, bukan semata-mata sebagai obyek untuk mencapai tujuan nasional, karena permintaan dunia terhadap sumber pangan hewani (daging, susu, dan telur) diprediksikan akan meningkat selama periode tahun 2005-2020 mendatang khususnya di negara-negara yang sedang berkembang. Indonesia termasuk negara sedang berkembang, dengan jumlah penduduk sekitar 212  juta jiwa dengan laju pertumbuhan rata-rata 1,5% per tahun. Dari jumlah penduduk tersebut tentunya membutuhkan pangan hewani yang cukup besar dan di proyeksikan meningkat sangat cepat dimasa mendatang. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya protein hewani juga ikut mendorong meningkatnya permintaan terhadap pangan hewani.
 Untuk memenuhi permintaan tersebut, produksi ternak domestik belum mampu untuk mencukupi permintaan, sehingga impor ternak harus dipenuhi. Tanpa impor, akan terjadi pengurasan ternak lokal atau konsumsi protein hewani dapat menurun secara terus menerus, sehingga tuntutan akan pembangunan peternakan untuk memenuhi permintaan produk peternakan yang sangat cepat dan kondisi nyata kinerja pembangunan peternakan yang belum optimal, perlu ditingkatkan dengan menggunakan strategi dan kebijakan yang komprehensif, sistematik, terintegrasi, berdaya saing, berkelanjutan dan terdesentralisasi. Apabila strategi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik, pada akhirnya kecukupan pangan (protein hewani) yang mempunyai fungsi dapat menyehatkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, agribisnis berbasis peternakan yang merupakan salah satu pembangunan sosial ekonomi, pemanfaatan dan pelestarian sumber daya peternakan yang seimbang merupakan awal dari pengembangan peternakan di masa mendatang.

1.2  Permasalahan
            Peternakan tidak henti-hentinya mendapatkan masalah, diantaranya munculnya penyakit flu burung, anthrax, penyelundupan Meat Bone Meal (MBL) dan daging, serta semakin meningkatnya harga-harga jagung dan kedelai di pasar Internasional yang menjadi bahan baku pakan. Masalah-masalah tersebut dapat mengganggu kinerja sub sektor peternakan. Maka dari itu permasalah ini adalah bagaimana cara untuk mengatasi Supply-demand produk hasil ternak, bagaimana peluang bidang peternakan di Indonesia, peluang dan tantangan peternakan di Indonesia, serta tantangan masa depan pembangunan peternakan.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1   Supply-demand Produk Hasil Ternak
            Menurut Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 237,6 juta jiwa. Dengan prediksi laju pertambahan penduduk rata-rata 1,49% per tahun maka tahun 2030 atau dua puluh tahun lagi, jumlah penduduk Indonesia mencapai 300 juta jiwa (BPS, 2010). Negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 4 dunia merupakan pasar luar biasa besar bagi produk pangan dan turunannya. Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian, perbaikan tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat, konsumsi protein hewani juga akan meningkat. Diperkirakan konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia pada tahun 2030 untuk daging 15 kg/kapita/tahun (1 potong beef steak atau 1 porsi sate 6 tusuk, setiap 3 hari sekali), telur 6 kg/kapita/tahun (1 butir telur ayam/3 hari) dan susu 12 liter/kapita/ tahun (1 gelas susu/3 hari). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan ketersediaan 4,5 juta ton daging, 1,8 juta ton telur dan 3,6 juta ton susu. Mengacu pada produksi dalam negeri saat ini (Statistik Peternakan, 2010) dan tren permintaan yang semakin meningkat, diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan 2,9 juta ton daging, 0,5 juta ton telur dan 2,72 juta ton susu. Kekurangan ketersediaan pangan hewani asal ternak menjadi peluang sekaligus tantangan yang tidak ringan bagi pembangunan peternakan Indonesia masa depan.

2.2  Peluang Bidang Peternakan di Indonesia
                Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa. Demikian dikatakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas saat menyebutkan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2000-2025 (Kompas, 3/8/2005). Dengan jumlah penduduk sebesar itu Indonesia merupakan pasar yang luar biasa besar. Namun sayangnya, kita masih sangat tergantung pada bahan impor. Setiap tahun Indonesia mengimpor sapi hidup sebanyak 450 ribu ekor dari Australia. Setiap tahun negara agraris ini mengimpor 1 juta ton bungkil kedele, 1,2 juta ton jagung, 30 ribu ton tepung telur dan 140 ribu ton susu bubuk. Importasi bahan pangan tersebut menguras devisa negara cukup besar.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999). Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat. Untuk memicu pertumbuhan subsektor peternakan masih dijumpai beberapa permasalahan. Pada industri unggas penyediaan bibit dan pakan masih tergantung impor. Pada industri ruminansia besar, sumber bibit yang menghandalkan usaha peternakan rakyat tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat, dan industri pakannya belum diusahakan dengan baik. Terbatasnya infrastruktur dan perdagangan ternak hidup tanpa kendali berpeluang penyebaran penyakit dan tidak terjaminnya kualitas dan keamanan produk. Dari sisi konsumsi, terjadi senjang penawaran dan permintaan, khususnya pada daging sapi sehingga harus dipenuhi dari impor. Di sisi lain, kapasitas produksi ayam ras masih mampu ditingkatkan lagi, hanya permintaannya sangat tergantung pada daya beli konsumen, kualitas gizi dan keamanan produk. Semuanya itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan. Untuk mengatasi permasalahan diperlukan strategi pembangunan yang fokus pada sasaran yang tepat. Fokus sasaran meliputi komoditas dan wilayah yang akan dikembangkan.
Kebutuhana konsumen terhadap produk peternakan sangat tinggi terutama daging sapi, ini dapat dilihat dari kebutuhan akan produk peternakan jika dilihat dari pangsa konsumsi, sekitar 48,3% daging yang dikonsumsi adalah daging unggas, 26,1% daging sapi, dan sisanya terdiri dari daging jenis ternak lain. Ini berarti selera konsumen terhadap daging sapi cukup potensial. Dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat rata-rata 1,5% per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 1,5% sampai 5,0% pada tahun 2005, diperkirakan konsumsi daging sapi akan meningkat dari 1,9 kg/kapita/tahun menjadi 2,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2005. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pola Pangan Harapan, seharusnya konsumsi daging masyarakat Indonesia sebanyak 10,1 kg/kapita/tahun. Ini berarti dari sisi permintaan masih cukup potensial untuk ditingkatkan. Peningkatan permintaan terhadap produk peternakan membuka peluang bagi pengembangan usaha peternakan lokal dengan skala agribisnis melalui pola kemitraan. Sistem agribisnis peternakan merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan pertanian, industri, dan jasa secara simultan dalam suatu kluster industri yang mencakup empat subsistem, yaitu subsistem agrisbisnis hulu, subsistem agribisnis budi daya, subsistem agribisnis hilir, dan subsistem jasa penunjang. Kemitraan merupakan kegiatan kerja sama antarpelaku agribisnis mulai dari tingkat praproduksi, produksi hingga pemasaran, yang dilandasi azas saling membutuhkan dan menguntungkan di antara pihak-pihak yang bekerja sama, dalam hal ini perusahaan dan petani-peternak untuk saling berbagi biaya, risiko, dan manfaat. Untuk meningkatkan peran hasil ternak sebagai sumber pemasok bahan pangan hewani dan pendapatan peternak, disarankan untuk menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dengan perbaikan manajemen pakan, peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit. Perbaikan reproduksi khususnya dilakukan pada sapi potong yakni dengan IB dan penyapihan dini pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Untuk memperbaiki mutu genetik, sapi bakalan betina diupayakan tidak keluar dari daerah pengembangan untuk selanjutnya dijadikan induk melalui grading up. Peningkatan minat dan motivasi peternak untuk mengembangkan usahanya dapat diupayakan melalui pemberian insentif dalam berproduksi.

2.3   Peluang dan Tantangan Peternakan di Indonesia
            Pembangunan peternakan merupakan bagian pembangunan nasional yang sangat penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternakan adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang unggul. Selain itu, tujuan pembangunan peternakan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, pelesatarian lingkungan hidup serta peningkatan devisa negara. Kondisi peternakan di Indonesia telah mengalami pasang surut. Sejak terjadinya krisis ekonomi dan moneter tahun 1997, telah membawa dampak terpuruknya perekonomian nasional, yang diikuti penurunan beberapa usaha peternakan. Namun, dampak krisis secara bertahap telah pulih kembali dan mulai tahun 1998-1999 pembangunan peternakan telah menunjukkan peningkatan. Kontribusi peternakan terhadap PDB pertanian terus meningkat sebesar 6,35% pada tahun 1999. Bahkan tahun 2002 meningkat mencapai 9,4% tertinggi diantara sub sektor pertanian.
Peran strategis peternakan juga berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. Pemerintah telah menetapkan tiga sasaran utama program penanggulangan kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan menjadi 8,2 persen pada tahun 2009, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau, dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu.Namun pembangunan peternakan tidak terlepas dari berbagai masalah dan tantangan. Globalisasi ekonomi merupakan salah satu ancaman dan sekaligus peluang bagi sektor peternakan. Menjadi ancaman jika Indonesia tetap menjadi importir input dan teknologi peternakan untuk menggerakkan proses produksi dalam negeri dan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dalam negeri. Ketergantungan pada impor jika tidak ditunjang oleh usaha-usaha kemandirian yang produktif, akan mendorong ketergantungan semakin sulit dipecahkan. Indonesia mempunyai peluang untuk mengisi pangsa pasar dunia karena Indonesia dianggap sebagai negara produsen yang aman karena produk ternak yang masih murni dan bebas dari penyakit mulut dan kuku. Berdasarkan Statistik Peternakan 2005 ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 17% per tahun. Dunia Islam juga mengharapkan Indonesia sebagai eksportir ternak yang sesuai dengan hukum Islam.
Dalam sisi dalam negeri yang menjadi penghambat tumbuhnya sektor peternakan, antara lain:
1. Struktur industri peternakan sebagian besar tetap bertahan dalam bentuk usaha rakyat. Yang dicirikan oleh tingkat pendidikan peternak rendah, pendapatan rendah, penerapan manajemen dan teknologi konvesional, lokasi ternak menyebar luas, ukuran usaha relatif kecil, serta pengadaan input utama yakni HMT (Hijauan Makanan Ternak) yang masih tergantung pada musim, ketersediaan tenaga keluarga, serta penguasaan lahan HMT yang terbatas.
2. Ketersedian bibit bermutu. Penelitian tentang pembibitan telah banyak dilakukan namun belum tersosialisasikan dalam skala besar. Terjadi kegagalan komunikasi baik Badan Litbang maupun Perguruan Tinggi. Selain itu, peternak tidak mempunyai insentif dalam mengadopsi teknologi baru yang disertai peningkatan biaya.
3. Masalah agroindustri peternakan yang belum mampu menggerakkan sektor peternakan. Misalnya, industri pengolahan susu, sebgaian besar menggunakan input dari negara asal. Industri perhotelan membutuhkan daging dari impor.
4. Derasnya impor illegal produk-produk peternakan
5. Bencana penyakit (mewabahnya virus flu burung dan antraks)
6. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku pakan
Peluang sektor pertanian di masa yang akan datang sangat besar karena permintaan hasil ternak yang terus bertambah akibat pertambahan jumlah penduduk. Berikut ini data konsumsi ternak nasional tahun 2002-2005 (kg/kapita/tahun)
No
Uraian
2002
2003
2004
2005
1
Daging
5.75
5.96
6.17
7.11
2
Telur
4.04
4.11
4.38
4.71
3
Susu
7.05
6.69
6.78
6.80






Berdasarkan data di atas menunjukkan bahwa permintaan akan konsumsi ternak terus meningkat. Konsumsi daging meningkat dari 5,75 kg/kapita/tahun pada tahun 2002 menjadi 7,11 kg/kapita/tahun pada tahun 2005. FAO sejak tahun 1999 juga sudah memprediksi akan terjadinya perubahan signifikan pada sektor peternakan dunia. Ketika konsumsi daging dunia meningkat 2,9%, maka di negara-negara berkembang sudah melaju sampai 5,4%, bahkan di Asia Tenggara mencapai 5,6%. Sementara di negara-negara maju hanya meningkat 1%. Sampai tahun 2020 diperkirakan pertumbuhan konsumsi daging negara-negara berkembang rata-rata 2,8% per tahun, sementara di negara-negara maju hanya 0,6% per tahun. Dengan segala keterbatasan peternak, perlu dikembangkan sebuah sistem peternakan yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan. Yaitu dengan mengembangkan peternakan industri dan peternakan rakyat yang dapat mewujudkan ketahanan pangan dan mengantaskan kemiskinan.

2.4  Tantangan Masa Depan Pembangunan Peternakan
            Dalam usaha peternakan, pakan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi efisiensi dan kesuksesan usaha. Pakan menentukan kualitas produk peternakan, produktivitas ternak dan keuntungan pengusahaan ternak. Program pembangunan peternakan termasuk upaya swasembada daging sapi 2014 tidak akan tercapai apabila tidak didukung pemenuhan kebutuhan pakan yang cukup ketersediaannya baik jumlah maupun mutu-nya. Pengembangan ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba) menghadapi persoalan fluktuasi ketersediaan pakan hijauan, sedangkan ternak unggas dihadapkan pada ketergantungan impor bahan baku pakan karena tidak tersedianya produksi dalam negeri. Ternak ruminansia semakin hari semakin rawan kekurangan suplai hijauan akibat semakin sempit bahkan hilangnya padang penggembalaan (pasture), tergusur oleh kepentingan ekonomi lain yang lebih prospektif. Akhirnya sumber pakan utama ternak ruminansia hanya mengandalkan limbah pertanian (jerami padi, tebon jagung, pucuk, tebu, dsb.) yang kualitas nutrisinya rendah dicirikan oleh rendahnya tingkat kecernaan, kadar protein kasar, dan kadar
karbohidrat non struktural, serta tingginya kadar serat utamanya lignoselulosa. Sekedar contoh, ketika musim kemarau tiba, ratusan truk membawa jerami ke kabupaten Gunungkidul untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi, meskipun peternak harus merelakan menjual pedhet (anak sapi) atau kambing/domba untuk dibelikan jerami padi sebagai pakan sapi. Jadi di kabupaten Gunungkidul saat musim kemarau tiba terdapat istilah sapi ‘makan’ pedhet atau sapi ‘makan’ kambing. Demikian pula dengan pakan konsentrat sapi, mayoritas bahan yang dipergunakan berasal dari limbah pertanian dan limbah industri dengan kualitas nutrisi yang rendah yang dapat  mengakibatkan relatif rendahnya kinerja produksi dan reproduksi ternak (Knop dan Cernescu, 2009). Inilah tantangan riil yang harus diatasi untuk mencapai swasembada daging sapi. Disamping persoalan suplai dan distribusi pakan, kita juga dihadapkan pada persoalan mutu dan keamanan pakan. Pakan yang aman dari berbagai cemaran akan menentukan kualitas pangan dari hasil ternak yang sehat bagi konsumen (Kan dan Meijer, 2007). Cemaran dan toksikan yang sering ditemukan pada pakan antara lain : mikotoksin, dioxin, melamin, logam berat, pestisida, obat hewan dan aditif (antibiotik, hormon, dsb.), mikroorganisme pathogen/infectious agents (Salmonella enterica, Bacillus anthracis, Toxoplasma gondii, Trichinella spiralis, Bovine Spongiform Encephalopathy) dan
polyciclic aromatic hydrocarbons (Kan dan Meijer, 2007). Di Indonesia, penelitian terkait cemaran dan toksikan pakan (feed safety) dan dampaknya terhadap kinerja produksi ternak dan keamanan pangan (food safety) relatif belum banyak dieksplorasi dan belum mendapatkan perhatian serius. Diantara cemaran dan toksikan yang relatif memperoleh perhatian adalah mikotoksin. Untuk turut serta mengembangkan penelitian mikotoksin di Indonesia, sejak tahun 1999 telah terbentuk Mycotoxin Research Group di UGM yang bernaung dibawah Laboratorium Ilmu Hayati, sekarang LPPT. Berkat kerjasama dengan ASEA-UNINET (Asean-European Academic University Network), kelompok riset ini memperoleh dukungan penelitian. Selama kurun waktu 10 tahun (2000-2010) Mycotoxin Research Group UGM menghasilkan 25 scientific papers, 5 diantaranya dipublikasikan di jurnal internasional, 17 paper dipresentasikan pada forum seminar internasional dan 3 paper pada forum seminar nasional.


BAB III
PENUTUP

  
3.1  Kesimpulan
                Mengingat  pentingnya protein hewani yang berasal dari ternak seperti daging, susu, dan telur bagi manusia, maka konsumsi produk ternak seharusnya dapat dipacu menuju tingkat konsumsi yang ideal. Hal ini dikarenakan sub sektor peternakan mempunyai peluang yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia, ini terlihat dari jumlah permintaan produk peternakan seperti daging, susu, dan telur yang terus meningkat. Selain itu, dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka membuka peluang usaha potensial yang berkaitan dengan penyediaan pangan hewani, karena bertambahnya jumlah penduduk, maka bertambah pula permintaan produk hewani seperti daging, telur dan susu. Protein hewani yang berasal dari ternak memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan oleh tubuh. Karena itu, langkah untuk mengurangi konsumsi daging dan telur bukanlah langkah bijak untuk menciptakan sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, produktif, dan sehat. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah peranan ternak dan produk peternakan yang dihasilkan oleh ternak tersebut sebagai sumber pendapatan dan sumber lapangan kerja yang efektif dalam memberantas kemiskinan di daerah pedesaan.


DAFTAR PUSTAKA


Artikel Ekonomi Nusantara, edisi jum’at 08 Mei 2009. ( Konsumsi Daging di Indonesia  Rendah) / (cha/JPNN).

Kompas, 2009. Swasembada Daging Sapi 2014. 09 November 2009. http://m.kompas.com.  November 2009
mgb.ugm.ac.id/media/download/pidato-pengukuhan.html?
Susilorini, Tri Eko. et al,.2008. Budidaya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar